Sirik dan Pitnah


Emang dasar sirik lo ama gue, begitu umpatan yang sering kita dengar dari mulut orang yang merasa dikerjai, diusilli atau dibikin susah. Sirik yang dimaksud tentunya bukan syirik menyekutukan Allah. Juga bukan syirik sebagai nama agama selain Islam yang juga bukan agama ahli kitab. Sirik yang dimaksud adalah sirik dalam arti sikap yang kurang menyenangkan. Biasa diungkap dengan sebutan : susah lihat orang lain senang dan senang lihat orang lain susah.

Kalau ada mahasiswa dapat nilai C terus-terusan, padahal sudah mengulang berkali-kali, biasanya dia akan beralasan, emang dasar tuh dosen sirik ama gue.

Sirik sering diartinya jahat, sehingga di masa kecil dulu kita yang suka majalah BOBO punya kisah menarik tentang Juwita dan si Sirik.

Entah bagaimana latar belakangnya, istilah syirik yang asal katanya dari kata syaraka yang artinya bersekutu, kok bisa sampai di lidah orang betawi menjadi sirik yang artinya suka menjaili orang lain.

Tetapi keterpelesetan makna itu bukan terjadi pada istilah syirik semata. Dalam istilah agama, ada begitu banyak istilah yang mengalami deviasi makna, penyimpangan arti, dan pengalihan maksud.

Contohnya istilah fitnah. Kita sering menggunakan kata fitnah dengan makna menuduh orang lain melakukan pekerjaan yang tidak dilakukannya.

Kalau ada pejabat yang diduga melakukan tindak korupsi, lalu pejabat itu tidak terima, maka dia bilang bahwa dirinya difitnah. Seorang kiyai yang dituduh memperkosa seorang artis bilang bahwa wanita itu telah memfitnah dirinya.

Seolah-olah istilah fitnah bermakna menuduh seseorang dan menyangkanya telah melakukan sesuatu yang tidak benar.

Padahal kalau kita buka ayat Quran dan juga kamus bahasa Arab, ternyata meski ada sedikit kemiripan, namun apa yang kita selama ini pahami sebagai fitnah tidak sama persis dengan istilah yang ada di Al-quran.

Kata fitnah di dalam Al-Quran cukup banyak terserak. Kalau kita cari pakai komputer kata fitnah, setidaknya ada 60 kali kata fitnah itu diulang-ulang di dalam kitabullah. Tetapi istilah fitnah yang sering kita pakai sehari-hari jauh berbeda makna dari istilah fitnah di dalam Al-Quran.

Salah satunya ayat berikut ini :

Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana (fitnah) pun , maka mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli . Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.(QS. Al-Maidah : 71)

Terjemahan Al-Quran versi Departemen Agama tegas menuliskan bahwa makna fitnah di ayat itu adalah bencana, dan bukan tuduhan keliru buat orang lain.

Yang lebih menarik lagi tentang makna fitnah di dalam Al-Quran ternyata tidak seperti yang kita pahami selama ini adalah pernyataan Allah SWT bahwa istri dan anak-anak kita adalah fitnah.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah fitnah. Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.(QS. Al-Anfal : 28)

Lho kok istri dan anak kita fitnah? Memang siapa yang memfitnah mereka? Lalu apa makna fitnah yang dimaksud di dalam ayat itu?

Kalau kita baca terjemahan Departemen Agama, maka fitnah disitu maksudnya adalah cobaan dan ujian, dan bukan tuduhan keliru.

Di ayat lain tegas sekali Allah menyebutkan bahwa makna fitnah adalah ujian dan cobaan :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.(QS. Al-Anbiya` : 35)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Al-Azhari dalam kamusnya menuliskan bahwa kata fitnah bermakna ibtila`, imtihan dan ikhtibar, yaitu bala bencana dan ujian. Asalnya dari kata fatantul fidhdhata waldz-dzahaba idza adzabtuha bin-nari litumayyiza ar-radi`a minal jayyid. Maksudnya, aku melakukan fitnah pada perak dan emas dengan api agar terpisah antara bagian yang buruk dari yang baik.

Karena itu tidak salah kalau Allah SWT menyebutkan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Maksudnya, bencana itu lebih kejam dari pembunuhan. Ya, memang benar.

Lihat saja bencana-bencana yang pernah terjadi di dunia, beribu orang mati seketika ketika terjadi fitnah (bencana), baik bencana itu karena faktor alam, atau pun karena faktor manusia. Perang saudara antara Kriten Katolik dan Protestan di Eropa adalah fitnah (bencana), karena 1/3 penduduk Eropa mati sia-sia, akibat kedegilan para penguasa dan pemuka agama yang fanatis.

Perang Dunia Pertama dan Kedua adalah fitnah (bencana) ketika merenggut berjuta nyawa manusia sia-sia.

Dan korupsi berjamaah dari RT sampai istana adalah fitnah (bencana) buat negeri ini yang tidak kunjung selesai.

Jadi kata fitnah dalam bahasa Arab dan Al-Quran jauh dari makna menuduh seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak dilakukannya. Fitnah adalah cobaan dan ujian di satu sisi, fintah juga bermakna bencana di sisi lain.

Tetapi kalau sudah terlanjur salah arti seperti itu, mau bagaimana lagi? Mungkin ada benarnya si Asep teman saya yang berasal dari Sukabumi. Waktu teman-temannya bilang bahwa si Asep sudah punya istri kedua, dengan tidak terima dan sambil manyun dia bilang begini,”Abdi mah te gaduh istri dua, itu mah pitnah”.

Pitnah, pakai huruf Pe, bukan Ef. Artinya, menuduh!!

sumber : http://www.ustsarwat.com/web/berita-86-sirik-dan-pitnah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: