Menyikapi Ujian Allah


Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al-Baqarah : 155)

Ayat iniberbicara tentang adanya cobaan yang kan dialami oleh orang-orang mukmun. Ketika manusia sedang diuji oleh Allah SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya adalah paling berat. Seolah-olah tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk menghilangkan persepsi semacam itu, ketika Allah memberikan ujian kepada orang-orang mukmin, Allah SWT melafadzkan bisyai’in yang artinya sedikit.

Lafadz yang dipakai Allah SWT dalam penggalan kalimat bisyai’in min al-khouf (dengan sedikit ketakutan) menggunakan naqirah yang bertujuan menyedikitkan. Meskipun sebenarnya ketakutan dan kelaparan yang dirasakan oleh orang mukmin tidak berbeda dengan ketakutan dan kelaparan yang dialamai oleh orang kafir. Tetapi mengapa Allah menggunakan lafadz bisya’in? Ini dimaksudkan agar bagaimanapun besarnya ujian Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, masih lebih kecil bila dibandingkan dengan adzab Allah kepada orang kafir di dunia atau akhirat. Perhatikan firman Allah SWT ketika berbicara kepada orang kafir. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. ”

Ayat 155 di atas menyatakan bahwa Alalh akan menguji orang beriman dengan beberapa hal. Bukan Allah tidak mampu memberi pahala kepada orang yang beriman tanpa mengujinya? tentu saja mampu. Tetapi mengapa harus ada ujian berupa ketakutan, kelaparan dan sebagainya? Maksud Allah dengan ujian ini tidak hanya bernuansa ukhrowi semata yang menyangkut tentang adanya pahala yang diberikan kepada orang yang beriman kepada Allah SWT. Selain berdimensi ukhrowi, ayat ini juga mempunyai dimensi duniawi.

Maksud ujian yang Allah berikan adalah untuk mengetahui mana dari hambaNya yang layak untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ketika kita mendapat hidayah dari Allah dengan menjadi seorang da’i, itu pada dasarnya adalah penghargaan dari Allah. Karena penghargaan, kita tidak merasa kelelahan, pusing dan jauh dari segala keluh kesah karena pekerjaan yang dilakukannya ini mulia. Memang dalam perjalanan dakwah ada rintangan, ada ujian, tetapi itulah seninya berdakwah.

Selanjutnya Allah mengatakan “Berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar”. Ujian itu berakhir dengan berita gembira. dan ujian yang diberikan Allah tersebut pasti sesuai dengan standar keimanan kita kepada-Nya. ”

Ujian yang diberikan Allah kepada para hambaNya di muka bumi ini dibagi dalam empat katagori, yaitu :

  • Pertama, ujian merupakan relaitas kemanusiaan. Maksudnya adalah dimana setiap manusia pasti di uji. Kita sebagai manusia jangan sampai takut diuji, karena ujian itu pasti kita alami.
  • Kedua, ujian merupakan realitas keimanan. Kalau seorang manusia biasa saja pasti diuji oleh Allah, apalagi sebagai seorang mukmin. Pada dasarnya harus ada ujian untuk mengetahui kebenaran keimanan seorang mukmin. Kadang-kadang ada orang yang merasakan keimananya sudah benar lantaran hidupnya mulus-mulus saja tanpa pernah mengalami ujian. Orang seperti ini seharsnya justru bertanya tentang kebenaran imannya, koq hidupnya santai dan mulus-mulus saja. Hal ini karena Allah menyatakan “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta “ (QS Al-Ankabut : 2-3).
  • Ketiga, ujia merupakan realitas dakwah. Sebenarnya secara otomtis seorang mukmin adalah seorang da’i. Jadi kalau seorang mukmin saja pasti diuji, apalagi seorang dai yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan umat.
  • Keempat, ujian merupakan standarisasi keimanan. ini artinya semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, akan semakin tinggi ujiannya, semaikin tinggi ujian Allah dan lulus, maka semakin tinggi pula keimannya.

sumber : http://www.pks-jaksel.or.id/Article352.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: