Pengalaman Gagal Berinvestasi [Tafakur Ayat Terpanjang dalam Al-Qur’an]


Pernahkah kita ditawarkan investasi yang menjanjikan keuntungan yang menggiurkan? Sebagian dari kita pernah mengalaminya bahkan bisa jadi di antara kita adalah orang yang menawarkan investasi tersebut. Saya sekedar ingin berbagi pengalaman hal itu dengan harapan menjadi pelajaran untuk kita semua.

Cerita I
Tawaran yang menyebabkan kerugian pertama kali saya alami saat masih menjadi mahasiswa. Seorang senior menawarkan investasi katering untuk konsumsi buruh pabrik. Beliau menunjukkan hitung-hitunganya yang angkanya cukup membuat yang melihatnya tertarik. Setelah itu, saya bercerita kepada Papa yang kala itu masih aktif bekerja, dan meminta sejumlah uang untuk diinvestasikan ke senior tersebut. Setelah uang ada di tangan, tanpa ragu saya berikan uang tersebut kepada senior. Walau hanya dengan kuitansi beserta surat perjanjian yang sangat sederhana dan ditulis dengan tangan kedua belah pihak plus satu saksi dari pihak senior, saya percayaan uang tersebut. Terlebih senior tersebut adalah seorang aktivis yang tampaknya militan dan berjilbab panjang.

Hari berganti, bulan berganti. Bagi hasil pun pertama kali saya terima meskipun tidak sebesar apa yang dihitung saat presentasi di awal. Bulan berikutnya tidak ada bagi hasil karena dengan alasan-alasan yang menurut saya kurang logis. Saya masih mencoba untuk percaya, dan salahnya adalah saya terlalu percaya. Pada saat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), senior tersebut menyampaikan bahwa sejumlah uang dari investasi saya digunakan untuk bisnis di PMB tersebut. Lalu saya komplain, karena apa yang menjadi kesepakatan awal adalah untuk bisnis katering. Saya mulai berpikir, senior tersebut kurang amanah dan menyepelekan perjanjian awal dengan sertamerta menggunakan uang saya untuk bisnis yang lain.

Seperti yang diperkirakan, setelah itu bagi hasil tidak pernah saya terima. Tentu saja beliau menjelaskan bahwa sedang ada masalah. Saat itu, saya berpikir untuk memberikan toleransi dengan harapan beliau segera menuntaskan masalahnya. Tapi tampaknya tidak ada itikad baik, karena beliau seperti mencoba menghindar dan tidak komunikasi yang positif. Sekitar lebih dari enam bulan, akhirnya saya gunakan cara yang lebih tegas dengan bahasa yang tegas pula saya sms agar beliau membalas. Sampai-sampai saya tawarkan solusi untuk kita selesaikan ke polisi. Yang saya minta sederhana, kembalikan uang saya.

Ternyata tawaran itu membuat beliau akhirnya membalas sms dan menawarkan mekanisme ansuran beberapa bulan. Lalu saya sepakati tanpa berharap ada urusan yang membuat hati saya jadi panas. Namun, sepertinya cerita ini menyebar di antara komunitasnya, sehingga seolah-olah saya adalah orang yang zholim dan senior menjadi orang yang dizholimi. Ahh, saya tidak peduli, yang penting hak saya kembali walau tanpa keuntungan sama sekali. Alhamdulillah dana sudah dikembalikan setelah proses yang cukup panjang

Cerita II

Sampai tulisan ini dibuat, urusan saya dengan oknum masih berlanjut. Kisah ini bermula saat saya melihat peluang usaha kuliner dengan target pasar mahasiswa. Kemudian, tanpa sengaja saya bertemu dengan oknum senior laki-laki yang memang kesehariannya adalah menjalan usaha kuliner. Kami mengobrol tentang prospek tersebut, tampaknya belaiu sangat tertarik. Bahkan berani menawarkan saya sebagai investornya, padahal awalnya saya ingin berkerja sama sebagai sesama pengelola. Setelah dipikir-pikir, dengan kesibukan saya yang berkerja sepertinya saya untuk di awal-awal boleh lah menjadi investor.

Kabar investasi ini pun saya sampaikan kepada beberapa teman. Mereka minat dan akhirnya para investor dan senior tersebut bertemu dan membuat surat perjanjian dan serah terima uang. Kali ini kami lebih rapih dengan menuliskan surat perjanjian dengan materai dan dilengkapi saksi yang insyaAllah mempunyai integritas.

Dan sekali lagi, saya ‘tertipu’. Bahkan seorang senior yang lain pun berkata, “wah harus hati-hati kalau bisnis sama beliau (oknum senior)”. Ternyata track record si oknum sudah buruk dimata komunitas beberapa angkatan. ‘Sial’ nya, saya baru tahu setelah sudah serah terima uang.

Saya masih berharap oknum senior itu tidak seburuk apa yang dibicarakan orang lain.

Di kontrak disebutkan dengan tegas bahwa usaha dijalankan selambat-lambatnya bulan November awal. Kausul itu tidak terjadi, lagi-lagi dengan alasan klise. Sampai suatu hari kami (investor) meminta rapat untuk mendengarkan penjelasan oknum senior dan meminta laporan keuangan sementara. Saat rapat oknum berkata bahwa terkendala masalah koki, karyawan dan lain-lain. Masalah itu tidak pernah disinggung sebagai resiko usaha pada saat sebelum dimulai kontrak. Para investor kaget melihat laporan keuangan yang menurut kami tidak layak disebut laporang keuangan. Terlebih nominal uang yang sudah keluar mencapai nilai investasi para investor.

Sekali lagi, kami mencoba untuk bersabar dan memberikan kesempatan untuk oknum menjalankan usaha. Kami sepakat bahwa akhir Desember usaha akan jalan, dan sebelum itu makanan harus ditesting oleh investor agar investor tahu kualitas menu yang akan dijual. Janji tinggal janji, kesepakatan itu dilanggar lagi. Sudah tidak bisa diharapkan, sudah tidak bisa dipercaya oknum ini. Dengan tegas, kami meminta dana kami kembali tanpa dilebihkan. si oknum menawarkan pinjaman dengan tambahan (riba) untuk menenangkan kami. Tapi kami tidak setuju, kami tetap meminta si oknum mengembalikan dana investor tanpa dilebihkan.

Kami beru mengenal karakter oknum itu dalam berbisnis, dengan memanfaat label aktivis beliau gali lubang tutup lubang. Termasuk dana kami yang sepertinya digunakan untuk menutup lubang yang lain.

Sampai saat ini, tidak ada komitmen yang dijalani oleh beliau. Bahkan untuk bertemu saja, si oknum banyak dalih agar tidak bertemu. Saya sempat tawarkan opsi, mau ketemu di bandung atau saya ke rumah keluarganya di suatu kota di jawa barat untuk meminta jaminan dari keluarganya. Saya dan para investor berharap masalah ini dapat selesai dengan baik-baik

Pelajaran yang dapat dipetik

Calon investor harus cermat dan teliti sebelum mempercayakan dananya. Cari tahu track record calon pengelola dana kita, apakah pernah ada masalah dengan investor sebelumnya atau tidak. Begitu pula aspek legalitas perjanjian yang perlu dijaga, misalnya penggunaan format surat perjanjian yang baik, kausul yang jelas, saksi-saksi yang dapat dipercaya. Setelah itu perlu monitoring yang baik terhadap jalannya usaha. Bisa melalui rapat rutin mingguan, laporan keuangan harian/bulanan, dan beberapa hari sekali meninjau tempat usaha. Dan yang poin penting lainnya adalah JANGAN menilai calon pengelola uang hanya dari tampilan luar, jilbab/jenggot, atau pernah jadi tokoh di kampus.

Pada ayat terpanjang dalam Al-Qur’an dijelaskan pentingnya menuliskan perjanjian/kontrak dalam aktivitas muamalah seperti jual beli, sewa, utang piutang, dan sebagainya termasuk kerjasama. Selain itu, penting untuk kita menjunjung nilai kejujuran, komitmen dan tanggung jawab. Sekali saja kita tidak jujur dalam menjalankan amanah maka dampaknya akan besar, kita tidak dipercaya orang lain sekalipun itu teman kita sendiri.

Allah Berfirman

بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلْ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنْ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمْ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (Al-baqarah:282)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Allahu’alam..

Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullahaladzim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: