13 Hari Menuju Hari Pernikahan


Logo Wedding Invitation By Me :p

Saya mulai bicara tentang pernikahan pada 2008 pada orang tua, yang kala itu saya sedang berada di tahun ketiga kuliah dan bertepatan saat saya aktif di organisasi BEM. Saya berpikir, alangkah indahnya hari-hari jika ditemani seorang pendamping. Namun, karena dianggap belum matang, belum punya penghasilan dan belum lulus kuliah, akhirnya orang tua tidak mengabulkan. Begitu pula tahun keempat dan kelima, saya menyatakan keinginan untuk menikah. Dengan jawaban yang sama, orang tua belum mengabulkan. Setelah lulus kuliah, saya melamar pekerjaan di banyak perusahaan, alhamdulillah diterima di salah satu IT Consultant di Bandung. Bekerja di Bandung merupakan suatu keberuntungan karena ‘tidak terlalu’ berhadapan dengan kemacetan seperti di Jakarta. Beberapa bulan setelah bekerja, saya meminta izin lagi kepada orang tua untuk menikah. Memang bukan hal yang mudah meyakinkan orang tua untuk mengizinkan anaknya menikah. Banyak hal yang menjadi pertimbangan orang tua, beberapa antara lain kesiapan mental, kesiapan finansial anak-anak, dan juga kesiapan dari keluarga sendiri.

Diskusi cukup panjang dengan orang tua dan keluarga tentang keinginan saya menikah. Saya saat itu menyatakan sangat serius ingin menikah, dan merasa sudah siap secara mental dan finansial jika menghidupi satu orang lagi, yaitu istri saya kelak, walau dengan kesederhanaan tentunya. Akhirnya, alhamdulillah orang tua mengizinkan. Tugas berikutnya adalah meminta izin kepada orang tua calon untuk menikahi anaknya. Tugas ini menurut saya lebih berat, karena kita akan berdiskusi serius kepada orang tua yang belum kita kenal karakter. Saat ini, saya sedang bertugas di Jakarta selama beberapa bulan. Saya sempatkan bersilaturahim ke rumah orang tua dari wanita yang kini menjadi calon istri. Mungkin karena bekum siap mental dalam berdiskusi dengan orantua calon, diskusi pertama tentang keinginan meminang anaknya itu pun berakhir kurang memuaskan. Sedih saat itu seperti kalah berperang. Layaknya jenderal, kekalahan berperang hendaknya tidak membuatkan kita menjadi rendah diri, dan berputus asa. Beberapa kali berusaha, dan akhirnya orang tua calon pun mengizinkan.

Kejadiaan yang cukup menarik adalah saat melamar, November 2011. Saya berpikir jeda waktu dari lamaran dan pernikahan maksimal tiga bulan. Namun, jawaban dari juru bicara pihak keluarga calon istri menyatakan ingi menunggu sang calon lulus dulu. Itu berarti 8-10 bulan jarak lamaran dengan pernikahan. Mungkin karena shock, dari wajah saya terlihat sekali kekecewaan di dalamnya. Sekedar informasi, saya tidak punya bakat ber-‘poker-face’-ria. Alhamdulillah orangtua memberikan semangat dan motivasi untuk tetap bertahan dan bersabar menunggu waktu itu tiba.

Ada peristiwa unik saat berdiskusi dengan orang tua sesaat setelah mengikuti pernikahan seorang sepupu. Orang tua berkata, hebat ya suami nya si anu, masih muda sudah punya rumah, mobil dan bisa biayain adik-adiknya. Lalu berkata lagi, seperti itu tu a’, menikah saat sudah mapan kan enak. Saya berkata, Mah.. Pah.. coba lihat tukang sapu itu deh (sambil menunjuk seorang berpakaian kuning yang sedang membersihkan sekitar trotoar gedung MPR/DPR), kasihan ya kalau seandainya orang yang belum mapan belum boleh menikah. Kami berdiskusi cukup seru, dan pada akhirnya kami sepakat bahwa kepantasan orang untuk menikah tidak hanya dilihat dari kemapanan secara finansial saja. Jika sudah cukup pemasukan (walau tidak berlebih), maka tidak ada halangan untuk menunaikan sunah Rosulullah yang mulia itu. Saya juga berkata, jika saya menikah saat saya sudah mapan dalam arti saya sudah kaya harta, maka saya tidak akan tahu apakah calon saya menerima saya apa adanya atau ada apanya. Menikah di kala kita belum kaya, membuat kita semakin yakin bahwa calon kita menerima kita apa adanya. Walaupun demikian, bukan berarti saya melarang menikah saat kaya atau merencanakan tidak kaya setelah ini. Saya punya semangat untuk kaya, karena dengan kaya kita bisa berdaya dan memberdayakan orang lain.

Teringat kata-kata mas Ippho, yang mengatakan bahwa laki-laki sejati itu siap hidup menderita, namun tidak akan memberikan kehidupan yang menderita kepada keluarganya. Saya sangat setuju dengan itu.

Hari ini 13 hari menuju hari pernikahan. Saya berdoa semoga prosesnya dimudahkan Allah, tidak ada keburukan/kekurangan di dalamnya, dan tentunya diridhoi Allah. Jika ada keburukan kualitas sikap, perilaku dan amalan kami,dengan izin Allah semoga kami bisa memperbaikinya.

Tepat dengan adzan subuh, saatnya saya pamit dulu. InsyaAllah nanti dilanjutkan dengan topik tentang persiapan pernikahan. Mari subuh di mesjid🙂

Comments
8 Responses to “13 Hari Menuju Hari Pernikahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: