Information Warfare


Ga salah dan ga rugi dulu ikut kelompok diskusi (mentoring -red) di kampus, diskusi tentang ghozwul fikri. Setidaknya, momentum 2013-2014 ini bisa dicerna dengan akal sehat. Saya lihat, banyak yang menjadi galau setelah diterjang arus informasi yang bertubi-tubi menyajikan pesan yang tak jarang kontrakdisi satu sama yang lain. Contohnya apa ya? Apalagi selain kasus Daging Impor🙂

Bisa dikatakan, saat ini sedang terjadi sebuah perang informasi. Satu pihak menyerang, pihak lain bertahan lalu menyerang balik.

Oiya, mencobe mengulas definisi “perang informasi/information warfare” versi wikipedia :

The term Information Warfare (IW) is primarily an American concept involving the use and management of information technology in pursuit of a competitive advantage over an opponent. Information warfare may involve collection of tactical information, assurance(s) that one’s own information is valid, spreading of propaganda or disinformation to demoralize or manipulate the enemy and the public, undermining the quality of opposing force information and denial of information-collection opportunities to opposing forces. Information warfare is closely linked to psychological warfare.

jokes, perang informasi zaman sebelum ada komputer, hehe

ada beberapa hal menarik dari terminologi tersebut :

  1. spreading of propaganda or
  2. disinformation to demoralize or
  3. manipulate the enemy and the public,
  4. undermining the quality of opposing force information and denial of information-collection opportunities to opposing forces.
  5. Information warfare is closely linked to psychological warfare

saya ingin bahas sedikit tentang poin di atas :

Propaganda

Titanic(1943).jpgPada saat perang dunia II, NAZI membuat sebuah film tentang kapal tenggelam, Titanic. Lalu hebatnya apa? Ga hebat sih, hanya ingin menyampaikan bahwa NAZI sangat meyakini bahwa jika ingin memenangi perang dunia II, NAZI perlu melakukan propaganda. Salah satunya dengan membuat film Titanic versi NAZI walaupun harus mengeluarkan budget yang sangat besar pada saat perang itu. Tujuannya apa? Di film tersebut dikisahkan tentang kesombongan, arogansi bangsa Inggris dan Amerika yang akhirkan di kandaskan oleh tenggelamnya kapal yang mereka bangga-banggakan. Dengan demikian, moral pasukan sekutu down plus masyarakat dunia tidak mendukung sekutu.

Disinformation to demoralize

Cara mudah untuk memenangkan perang adalah membuat pasukan musuh jatuh moralnya. Salah satu cara demoralisasi (kader/pasukan) lawan adalah menyebarkan informasi sensitif/destruktif kepada lawan/publik. Contohnya : “Panglima negeri X bergelimang harta, padahal pasukannya sangat sederhana” atau yang parah “Panglima negeri X terkena skandal Y”. Mendengar informasi tersebut, pasukan bisa dipastikan terguncang bahkan mungkin sebagian besar kecewa dan hijrah ke pihak lain. Setelah sikap mental pasukan sudah jatuh, maka mudahlah musuh untuk menjatuhkan negeri tersebut. Biasanya, informasi yang disajikan adalah informasi bohong, informasi dibiaskan, informasi yang diarahkan (presenter TVone biasanya suka mengarahkan).

Contoh menarik dari sebuah status di fb :

Media Kopplak! Koplak!! Kopplak!! 

Mentan Suswono ketika di wawancarai di Kompas TV sore ini:

Mentan: Saya katakan bhwa pertemuan di SUMUT itu hnya untuk mencocokan/­membandingkan data dr ibu Maria Elisabeth ke Kementrian Pertanian. tidak ada pembicaraaan penambahan quota impor daging.

KompasTV : (Running text) Mentan Suswono mengakui dan membenarkan adanya pertemuan di SUMUT untuk membahas penambahan quota daging sapi.

mentan: Sblm saya lanjut mnjelaskan, tolong Running Text nya di ubah, saya kan sudah tegaskan bahwa tidak ada pembicaraan penambahan quota daging sapi di SUMUT, hanya membandingkan data dari Maria Elisabeth ke Kementrian, ini biasa, mentan juga membandingkan data ke Mentri perdagangan, mentri perkonomian dll. jadi tolong diubah.

KompasTV: (running text langsung dihapus) —-

Kocak kan media kita? hehe

manipulate the enemy and the public

Setelah menyerang internal lawan, publik juga diserang dengan kebohongan atau informasi bias. Saya amati media-media online especially tempo. Beritanya sangat tendensius, apalagi versi cetaknya yang terkadang membuat karikatur yang menyakitkan. Pernah kan tempo diprotes karena menampilkan gambar kartun Athiyyah Laila (istri Anas U.) dengan pesan intrinsik yang negatif .

koran tempo
silakan baca http://beritaprotes.com/2013/02/masihkah-tempo-layak-baca/

Belum lagi tentang PKS yang hampir muncul tiap hari di koran tempo. Berikut gambar cover koran tempo dalam selang waktu hampir tiap hari 10-21 Mei 2013

Koran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari IniKoran Tempo Hari Ini

Tampilan-tampilan informasi seperti dapat dengan mudah melahap otak bagi masyarakat pada umumnya.
“Ko gitu ya petinggi PKS?” “Ternyata seperti itu..” “Saya ga dukung lagi deh PKS” “Dasar partai, sama saja semuanya, ladang koruptor!”

itu kira-kira respon dari masyarakat yang sebenarnya tidak tahu akar permasalahannya, bahkan proses hukum pun belum jatuh vonis. Tidak salah jika Fahri Hamzah menyebutnya brainwash.

Kalau contoh internasionalnya adalah kasus 11 September WTC-Pentagon -> sampai sekarang tidak ada bukti yang menyatakan Osama bin Laden menjadi otak dibalik serangan tsb. bahkan di Pentagon tidak ada sama sekali bukti adanya pesawat yang jatuh. Satu lagi, senjata pemusnah masalnya Saddam Husain, sampai sekarang belum ditemukan.

undermining the quality of opposing force information and denial of information

Pengalihan isu. Contoh konkritnya nih baca http://www.merdeka.com/peristiwa/bnpt-akui-penggerebekan-teroris-untuk-pengalihan-isu.html

Kenapa saya bilang konkrit, wong bosnya aja sudah ngaku  :p

Saya sempat berpikir, kenapa untuk menangkap 4 pemuda aja harus terjadi drama tembak-tembakan? Kenapa tidak pas saat mereka sedang beli makan diluar lalu disergap? Kenapa juga harus rame media? Pokoknya banyak pertanyaan kenapa deh tentang teroris dan densus 88 plus BNPT.

Contoh lain, kasus korupsi level kakap -> BLBI, Century, Hambalang, kasus pajak keluarga istana. Definisi kakap =  berpotensi merugikan negara dengan angka yang sangat besar. Untuk mendistorsi opini publik tentang kasus tersebut, muncul kasus tandingan yang ‘sebenarnya’ belum terjadi transaksi (suap), dan potensi kerugian negaran Rp 0,-. Kasus kecil tersebut menjadi sangat seksi karena tersangkanya adalah presiden sebuah partai (berwarna) putih plus masyarakat sedang gerah dengan mahalnya harga daging.

Jackpot! Isunya sukses dialihkan walaupun banyak simpatisan dan kader partai tersebut melakukan counter. Kasus besar hilang ditelan samudera informasi, hilang juga dari ingatan masyarakat. Malahan sekarang banyak masyarakat yang menghujat, nyinyir, sinis terhadap PKS padahal belum terbukti sampai tulisan ini dipublish bahkan JB alias mas Johan Budi bilang

“(Sejauh ini) tidak ditemukan dana dari AF ke partai,”

Dari kesaksian AF yang di tweet oleh @Setialesmana

AF: “Pak LHI mengatakan bahwa beliau tdk punya data soal daging dan tdk punya kapasitas utk pengaruhi kuota impor” #Kesaksian

AF:”Semua itu inisiatif saya sendiri. Saya perkenalkan maria dgn LHI. Saya desak LHI terus menerus agar fasilitas ketemu Mentan” #Kesaksian

AF: “saya yg mengatur pertemuan di Medan dgn mendesak terus LHI. Saya bersama Eldan dan maria berangkat ke medan”. #Kesaksian

AF: “Soal dana dari Indoguna utk PKS, itu hanya wacana saya dgn Bu Elda dan Maria saja. Nggak sampai ke PKS (dananya)”. #Kesaksian

AF: “Setiap saya sodorkan dana dari Indoguna, LHI selalu mengacuhkannya hingga akhirnya uang itu saya bawa dan gunakan sendiri”. #Kesaksian

AF: “saya mengaku pengusaha, saya adalah makelar yg menghubungkan dgn siapa saja (bisnis jasa)”. #Kesaksian

AF: “Motivasi saya murni memperoleh keuntungan. Dan itu saya konsumsi pribadi dan ada juga yg disumbangkan”. #Kesaksian

AF: “saya pernah memperoleh keuntungan sbg makelar hingga Rp 3 milyar. Banyak pihak kok yg saya sumbang”. #Kesaksian

AF:”pengajuan Indoguna impor sebesar 500 ton daging ditolak oleh Mentan dgn alasan kuota sdh habis”. #Kesaksian

AF: “kata Dirjen Iwan Sukur, apapun yg terjadi penambahan kuota impor sdh tdk memungkinkan lagi. Itu sesuai aturannya”. #Kesaksin

AF:”Eldan mencoba peluang utk ijin kuota utk 2013. Itu yg kami coba cari celah. Mentan tetap nolak”. #Kesaksian

AF:”saya pernah telpon Elda, ini yg dibulatin apa? Dijawab itu adl importir yg tdk punya infrastruktur dll”. #Kesaksian

AF:”waktu saya bicara dgn LHI saya tdak lihat ada orang Mentan atau kementerian yg datang”. #Kesaksian

AF: saya minta dana ke Bu Elizabeth secara pribadi. Saya dorong utk seminar uji publik penambahan kuota impor”. #Kesaksian

AF:”seminar ini utk mengetahui kemungkinan penambahan kuota impor melibatkan importir, peternak, dll”. #Kesaksian

AF: kt Bu Elizabeth ada dana kemanusiaan (di PT Indoguna). Bu Elizabeth kasih sy Rp 1 M utk seminar dan sisanya utk pribadi sy” #Kesaksian

AF:”apakah saya mau kasih ke PKS itu tergantung saya, bukan permintaan siapapun (di PKS). Itu semua saya yg tentukan”. #Kesaksian

AF: soal data kuota impor yg saya bahas dgn Elda, itu tdk ada sama sekali kaitannya dgn Mentan Suswono”. #Kesaksian

AF: “setelah terima dana Rp 1 M dari Elizabeth sy memang telpon LHI, bisa ketemu ngga nanti malam? Hanya itu kata2 dr saya”. #Kesaksian

AF: “LHI bilang lagi sibuk rapat dan kegiatan2 lainnya”. #Kesaksian

AF:”Maharani sepakat datang ke hotel dan bicara ke saya perlu ini itu, ya udah saya kasih Rp 10 jt ke dia”. #Kesaksian

AF:”Maharani sepakat datang ke hotel dan bicara ke saya perlu ini itu, ya udah saya kasih Rp 10 jt ke dia”. #Kesaksian

AF:”Soal komitmen Rp 40 M itu, LHI selalu nanggapinya dgn becanda saja”. #Kesaksian

AF:”Saya nggak yakin kalau LHI itu mau bicarakan soal itu. Mnrt sy LHI itu nggak yakin soal komitmen fee itu. LHI suka becanda”. #Kesaksian

AF: “saya ini makelar aja, calo apa aja”. #Kesaksian

AF:”sbg Calo saya yg menginisiatifkan (create) utk permintaan tambahan kuota impor antara PT Indoguna dgn LHI”. #Kesaksian

AF:”saya jd calo utk banyak proyek spt pertambangan, dan lain-lain”. #Kesaksian

AF:”saya tdk terlalu sering ke Kementan. Saya ke kementan utk urusan proyek dgn posisi sbg makelar”. #Kesaksian

AF:”pihak2 berwenang di Kementan selalu sarankan utk ikuti prosedur lelang. Dan proyek yg kami menangkan sesuai prosedur”. #Kesaksian

AF:”saya tegaskan bahwa saya bukan kader. Namun memang saya bersahabat dgn LHI. Jadi hubungan saya ke PKS hanya itu”. #Kesaksian

Dengan kesaksian AF di persidangan pun, media masih membiaskannya sehingga masyarkat tidak menerima informasi secara utuh.

Hore mission accomplished..🙂

Oiya, mungkin ada sebagian masyarakat socmed merasa risih dengan ramainya posting simpatisan dan kader partai yang mencoba melakukan fight back dalam perang informasi. Pesan saya sih, harap maklum aja. Saat orang tercinta misal ayah atau ibu dizholimi orang, pasti sebagai pasti kita akan melindunginya bahkan melumpuhkan sang penyerang. Sekali lagi pesan saya, harap maklum, jika merasa terganggu dengan perang informasi ini, di-hide, di-unfollow atau di-unfriend saja🙂

psychological warfare

Pernah lihat Fahri Hamzah marah, kira-kira begini “..sampai saya bilang, anjing saja kalau bawa surat (penyitaan), kasih tu mobil. tapi kpk mau nyita tanpa surat, jangan dikasih”

Salah ga ya? jangan lupa, dalam perang informasi, juga melibatkan unsur psikologi. Coba bayangkan, saat diserang dengan informasi “PKS melawan KPK” saat menolak penyitaan mobil di DPP PKS, lalu Fahri Hamzah hanya senyum saja. Pasti media semakin dapat mengarahkan opini masyarakat bahwa “memang betul PKS melawan KPK, PKS salah, KPK benar”. dan harap dimaklumi, Fahri Hamzah dulunya adalah “orang jalanan”, salah satu penggerak ’98, wajar agak galak, hehe..

Bukannya ingin mengatakan PKS itu benar, KPK salah. Hanya sekedar mengingatkan bahwa proses hukum sedang berjalan, marilah kita hargai proses tersebut (khas talkshow). Namun, jika pada proses tersebut terdapat perang informasi (information warfare), setidaknya kita sudah siap dalam otak kita untuk memilah mana yang fakta mana yang bagian dari perang informasi.

Tidak heran politisi membeli perusahaan media massa, dan tak heran juga pemilik media massa menjadi politisi🙂

Oiya, saran dari teman seangkatan saya dulu (Faris Muhamad) dalam status facebook-nya,

“Bacalah buku ‘Protocol of Zion‘ sebelum ada menyaksikan acara2 di televisi….. Semoga tidak tersesat klo nonton tv Indonesia terutama ttg berita2 “

Maaf jika ada salah-salah kata, semoga bermanfaat🙂

Salam hangat

sumber

  1. http://koran.tempo.co/
  2. http://chirpstory.com/li/56843
  3. http://www.merdeka.com/peristiwa/bnpt-akui-penggerebekan-teroris-untuk-pengalihan-isu.html
  4. http://beritaprotes.com/2013/02/masihkah-tempo-layak-baca/
  5. en.wikipedia.org/wiki/Information_warfare
  6. http://www.tribunnews.com/2013/05/20/kpk-tidak-temukan-aliran-duit-fathanah-ke-pks
  7. facebook.com
Comments
3 Responses to “Information Warfare”
  1. emiksan says:

    kasih bintang satu..
    gw baru lihat gambar2 headline koran tempo disini, ternyata propagandanya kelihatan banget.. menampakkan tempo yg ga berimbang, pincang parah.. Belum lagi media liberal lainnya, hadeuhhh.. Untuk mengimbanginya disarankan baca islamedia dan pkspiyungan

  2. emiksan says:

    Lanjut.. nanya, jadi kali ini bang faqih setuju dgn psikologi war dari bang fahri kah? hehehe. Karena abang orangnya perasa, seingatku dulu abang ga setuju dgn cara2 bang fahri kan?hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: