Diskusi Politik Bersama Istri


Hari Sabtu, seperti biasanya dinikmati dengan membantu istri mencuci baju. Kali ini, kain dan bedong Aa’ bayi yang kami cuci. Setelah selesai mencuci, saya dan istri berdiskusi banyak hal. Tentang masa depan rumah tangga, tentang pekerjaan di kantor, bahkan juga berdiskusi tentang politik.
Isu politik yang masih hangat dan banyak pelajaran di dalamnya adalah Pilkada Kota Tangerang yang dimenangkan oleh pasangan Arif-Syahrudin. Beliau berdua mempunyai track record di masyarakat sangat baik. Pak Arif adalah Wakil Walikota tangerang 2008-2013 mendampingi Pak Wahidin Halim. Sebelum terjun ke politik, secara finansial Pak Arif bisa dikatakan sangat mapan. Beliau memiliki Rumah Sakit Sari Asih yang kata istri rumah sakit “harga rumah sakit pemerintah, kualitas rumah sakit swasta”. Bisa dikatakan, menjadi wakil walikota atau bahkan walikota bukan merupakan ajang cari nafkah. Di saat menjadi Wakil Walikota 2008-2013, menurut istri, beliau visioner dan sangat mengapresiasi IT agar diimplementasi di Pemkot Tangerang secara baik.

Usia mudanya dianggap melengkapi Pak Wahidin Halim walaupun diakhir periode terjadi konflik di antara keduanya. Kalau tidak salah karena Pak Wahidin Walim berharap Pak Arif bisa berpasangan dengan adiknya, Pak Abdul Syukur, dalam Pilkada Kota Tangerang 2013, namun Pak Arif menolaknya. Malah beliau meminang Pak Syahrudin yang merupakan seorang Camat di Kecamatan Pinang.

Kata istri, Pak Syahrudin mempunyai karakter yang baik. Dulu sewaktu Pak Syahrudin masih menjadi Camat Cipondoh, istri sering ditraktir saat main ke kantor kecamatan. Kebetulan Ibu dari istri bekerja sebagai PNS di kecamatan tangerang.

Sekarang tentang pelajaran politik yang bisa diambil dari momen pilkada Kota Tangerang. Sebagai seorang simpatisan PKS, sebenarnya saya sangat berharap Pak Hilmi Fuad (calon wakil walikota tangerang dari PKS) bisa berpasangan dengan Pak Arif. Menurut istri, ‘kesalahan’ PKS adalah tidak melihat track record Pak Abdul Syukur di mata masyarakat.

Istri pernah bertanya si Mpok (yang bantu-bantu di rumah mertua). “Pilih siapa Mpok?”
“Arif-Syahrudin lah..”
“Emang kenapa Mpok?”
“Keduanya bagus teh”
“Kalau Abdul Syukur-Hilmi Fuad?”
“Abdul Syukur kurang bagus teh. Okem, agak preman gitu”

Diakhir diskusi saya sama istri, saya berkesimpulan bahwa :
1. keren jika mencalonkan diri menjadi pemimpin tidak sekedar kekuasaan, tapi pengabdian dan kontribusi.
2. kalaupun Abdul Syukur-Hilmi Fuad menang, saya meragukan kekompakannya. Karena dari karakter dan visinya seperti tidak sinkron.
3. sebagaian besar pemilih di perkotaan sudah cukup cerdas dalam memilih pemimpinnya
4. figur tokoh yang dianggap berkontribusi oleh masyarakat, menurut saya lebih kuat pengaruhnya dari pada mesin politik partai

Saya berharap Pak Arif dan Pak Syahrudin kota Tangerang bisa lebih baik dan maju. Aamiin..

Begitu pula kota Bandung dengan walikota yang fenomenal akan kreativitasnya (Pak Ridwan Kamil) dapat membuat Bandung tidak semerawut, dan kacau seperti ini. Tentunya dibandung secara totalitas Pak Oded sebagai wakilnya🙂 Bersinergi bersama masyarakat menghidupkan kembali Kota Bandung sebagai Kota Kembang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: