Enterprise Architecture


Ini tema tulisan baru ini blog saya, yaitu tentang Enterprise Architecture (EA). Tulisan ini terinspirasi dari proyek yang sedang berjalan dikantor. Kebetulan saya diberi tugas untuk mendamping konsultan untuk menyusun EA level Kementerian. Namun, saya tidak akan membahas konten dari sedang disusun, akan tetapi saya mencoba membahas tentang definisi, manfaat, framework dan implementasinya.

Istilah EA sebenarnya sudah lama dicetuskan, yaitu sekitar tahun 1986-1989 dan mulai ramai diterapkan di Negara-negara maju bahkan beberapa Negara berkembang akhir-akhir ini. Beragam definisi dan penjelasan tentang enterprise architecture yang ada di internet. Namun menurut saya, penjelasan yang disampaikan oleh Pak Romi Satria Wahono pada slide yang beliau publish di http://romisatriawahono.net/lectures/ cukup menarik dan mudah dipahami.

Bayangkan, kita memiliki rumah besar dengan penghuni, ruangan dan fasilitas yang cukup banyak.

slide

Dengan kondisi seperti itu, kita memiliki keterbatasan : kita tidak tahu detail jadwal kegiatan anggota keluarga, isi perpustakaan, asset rumah yang ada. Kita juga tidak tahu bagaimana cara membersihkan ruangan dan kolom renang. Pada situasi normal, tidak ada yang perlu dipusingkan. Namun, sering terjadi :

  1. Saat membeli buku baru. Eh, ternyata bukutersebut sudah ada di perpustakaan
  2. Saat download film bagus. Eh, ternyata anggota yang lain sudah mendownload
  3. Saat butuh dokumen penting. Kita lupa menaruh dimana
  4. Saat ingin liburan bersama. Jadwal anggota-anggota keluarga bentrok
  5. dsb

Rumah besar tersebut dianalogikan seperti organisasi. Semakin besar atau kompleksnya organisasi maka akan semakin besar pula permasalahan yang akan dihadapi. (Konteks organisasi yang dimaksud adalah organisasi yang memanfaat IT untuk mendukung bisnisnya). Misalnya proses bisnis yang tumpang tindih, asset IT yang sulit dikelola, tidak tepatnya solusi yang ditawarkan IT dan sebagainya. Permasalahan tersebut pada akhirnya juga berdampak pada cost perusahaan. Maka tidak jarang IT dianggap menjadi cost center, alih-alih menjadi business enabler.

Begitu cara cerdas pak Romi menjelaskan tentang EA. Dengan jalan cerita serta permasalahan yang ada, lalu muncul EA sebagai salah satu solusinya. Dengan mengetahui itu, kita tidak pusing saat disodorkan benyak definisi yang ada. Bahkan kita dapat membuat definisi EA versi kita sendiri. Nah, menurut saya sendiri EA adalah sebuah kerangka kerja, metodologi untuk memodelkan kondisi saat ini (area Proses bisnis dan area TIK), mendefinisikan goal, gap antara goal dengan kondisi saat ini serta strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai goal tersebut. keyword Enterprise Architecture : Penyelarasan (alignment) dan traceability. alignment bersifat top-down, sedangkan traceability bottom-up.

Ada juga kartun lucu yang dibuat oleh ATD Solution yang menggambarkan kondisi yang terjadi antara IT dan Bisnis

  1. Pola komunikasi yang kurang baik
  2. Proyek IT bersifat silo-silo atau tidak holistic
  3. belum optimalnya pendayagunaan tim IT
  4. Belum adanya standardisasi disain yang digunakan
  5. IT dianggap sebagai cost, bukan sebagai investasi

Pada tulisan berikutnya, saya akan menjelaskan tentang framework EA, tools EA, success factor EA dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: